6 Makam Membujur Barat Timur di Keras Jombang, Juru Kunci: Bukan Sayyid, Ini Pendahulu

  • Bagikan
makam pendahulu Desa Keras Diwek Jombang1
Sukardi (70) sang juru kunci Punden Sentono Agung, Dusun/Desa Keras, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang.

JOMBANG, WartaBangsa.id – Sepintas, keberadaan enam makam di Dusun Keras, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, tampak seperti makam umumnya. Namun, ada pembeda pada makam yang dikelilingi hambaran sawah dan teduh oleh rerimbunan pohon ini. Di antaranya, keenam makam tersebut membujur barat timur. Bukan membujur ke utara selatan seperti makam Islam pada mestinya.

Selain itu, keenam makam tersebut dikijing menggunakan bata tanpa dipoles, dan posisinya berjajar dari utara ke selatan. Tak ada batu nisan atau prasasti yang menerangkan identitas keenam makam tersebut.

Makam tersebut dikelilingi pagar tembok dengan dua pintu di sisi timur untuk peziarah bisa nyekar. Di pintu, terpasang miniatur candi dan hiasan patung mirip burung. Di sebelah timur makam, terdapat balai yang difungsikan peziarah singgah atau istirahat atau memanjatkan doa. Di selatan balai, terdapat sebuah musala.

Sukardi (70) sang juru kunci mengatakan, pemakaman ini dinamakan Punden Sentono Agung. Sementara keenam makam tersebut merupakan makam pasukan Tartar Mongol. Dua di antaranya adalah kakak beradik. Keenamnya berada di Dusun Keras, setelah peristiwa penaklukan kerajaan Kadiri oleh kerajaan Majapahit.

“Tapi, mereka meninggal bukan karena perang melawan pasukan Majapahit. Mungkin mereka berhasil lolos dari pembantaian waktu itu, kemudian menetap di sini,” ujar Mbah Di, sapaan akrab warga Dusun Mejono, Desa Keras ini, Senin (31/8/2020).

Mbah Di mengaku tahu betul keenam makam tersebut. Ia kemudian menyebut dari yang paling tertua, yakni Kek Tong, Kek Soni, Kek Fajar, Kek Tho, dan Ki Soro.

“Kek Tong dan Kek Soni ini yang kakak beradik. Sebenarnya ada satu lagi yang masih ada hubungan dengan sini, makamnya ada di Dusun Mejono. Cuma satu makam,” katanya. Mbah Di juga menyempatkan menulis nama enam leluhur tersebut dengan tulisan Cina.

Ia menceritakan, sebelum punden ini diketahui dan dikenal, kondisi makam tersebut rata dengan tanah dan tidak ada tetenger (penanda) sama sekali. Diketahuinya makam tersebut adalah makam pendahulu Desa Keras, Mbah Di mengatakan dari orang tertua desa setempat kala itu.

“Kalau makam ini dibangun ya cukup lama. Kemudian diperbaiki seperti ini,” beber Mbah Di.

Disinggung soal acara sedekah desa yang dipusatkan di Punden Sentono Agung ini, pada Kamis 20 Agustus 2020 lalu, dia mengaku tidak mempermasalahkan. Karena menurutnya, keenamnya merupakan orang pertama kali berada di Dusun atau Desa Keras.

Hanya saja, Mbah Di menolak anggapan masyarakat terkait enam makam tersebut, di mana dua di antaranya merupakan makam Sayyid (gelar kehormatan di dunia Arab).

“Bukan Sayyid. Keenamnya ini berasal dari Cina, ya tentara Tartar itu. Nama aslinya, Kek Tong dan lainnya tadi. Makamnya juga membujur barat timur. Kalau Islam kan membujur utara selatan,” tandasnya. Ia juga mengaku pernah berdialog secara gaib dengan ruh di antara mereka. (an/wb)

makam pendahulu Desa Keras Diwek Jombang
Enam makam di Punden Sentono Agung yang diakui Mbah Di merupakan pasukan Tartar, membujur barat timur.
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *