Kafe dan Resto di Kota Probolinggo Ini Pakai Nama Cuaca Indonesia

  • Bagikan
pemilik kafe hujan panas kota Probolinggo min
Fleuri Paramita Aprianti sang pemilik kafe dan resto Hujan Panas, Kota Probolinggo.

PROBOLINGGO, WartaBangsa.id – Di Kota Probolinggo, ada rumah makan yang mamakai nama Hujan Panas. Nama tersebut cukup menggelitik dan membuat berfikir setiap orang yang membacanya. Rumah Makan ini dilaunching pada Senin (11/1/2021). Kafe dan Resto yang berada di jalan Mastrip, Kelurahan Jrebeng Wetan, Kecamatan Kedopok, Kota Probolinggo ini, bebas dari perokok.

Selain berlokasi di area Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang memang dilarang merokok, juga karena berkonsep bumi. Nama dan makanan dan minuman yang dijual, memakai nama cuaca atau iklim seperti Mi Badai, Mie Kuah, dan Bakso Gurih Banjir dan Manis Banjir serta Mi Cokelat.

Minumannya, nama tanaman buah seperti Es krim cokelat, stroberi dan vanila. Tak tanggung-tanggung, mereka yang mengucapkan selamat dan sukses atas dibukanya resto and kafe Hujan Panas, tidak hanya dari dalam negeri seperti Himpunan Wanita Pengusaha Indonesia (Hippi) atau Ikatan Alumni ITB Bandung.

Ucapan juga datang dari University Kebangsaan Malaysia (National University of Malaysia dan Notthingham Business School (Inggris) atau Nottingham Trent University.

Fleuri Paramita Aprianti sang pengelola juga pemilik ini mengaku, pernah kuliah di National University of Malaysia untuk gelar masternya atau S2. Saat ini, pemilik SPBU jalan Mastrib ini tengah belajar atau kuliah S3 di Nottingham Trent University, Inggris, program bea siswa tahun kedua.

Terkait dengan nama Hujan Panas, dirinya kepingin restoran miliknya meng-Indonesia banget. “Di sini kan hanya ada dua musim, kemarau dan penghujan. Nama makanannya juga kami ambilkan dari iklim dan cuaca. Ada mi ayam badai,” ujarnya.

Nama tersebut hanya kebetulan saja. Awalnya Fleuri Paramita Aprianti kebingungan nama yang akan digunakan untuk kafe and restonya. Selain bertagline Indonesia, konsep yang dibawa di usahanya adalah lingkungan atau bumi.

Menurutnya, manusia sebagai penghuni harus cinta akan bumi dengan cara memelihara bumi dari ketidakseimbangan atau kerusakan. Karena bumi sebagai ciptaan Tuhan, memberi manfaat kepada manusia.

Perempuan yang pernah kuliah S1 di ITB Jurusan Tekhnik Kimia tersebut berterus terang, membuka usaha di masa pandemi Covid-19 karena terpaksa. “Sebenarnya mau buka Januari tahun lalu (2020). Tapi tertunda karena pandemi. Akhirnya mau tidak mau, ya buka sekarang,” katanya.

Perempuan kelahiran Jakarta ini yakin, pandemi Covid-19 akan segera berakhir, sehingga aktivitas ekonomi normal kembali, termasuk usahanya. Karena saat ini masih pandemi, ia tetap menjalankan Protokol Kesehatan (Prokes) Bahkan, meja untuk makan terbuat dari keramik yang mudah dibersihkan.

Seragam karyawannya pun mengenakan bahan kain atau kaus yang mudah menyerap keringat. Karena di Indonesia khusunya Kota Probolinggo, cuacanya panas. Terkait menu kuliner, yang ditawarkan ke pembeli masih sebatas mi dan bakso.

“Sementara ini, menunya hanya itu. Dalam waktu dekat, tiga bulan lagi kami jual nasi,” tambahnya.

Mengenai harga perempuan yang biasa disapa Mita ini cukup murah dibanding resto di kelasnya. Cukup dengan uang Rp 10 hingga Rp 12 ribu sudah mendapatkan mi dan minuman. Harga segitu cukup menjangkau kocek masyarakat.

“Saya rasa harga cukup familier. Tidak mahal-mahal banget. Harga kekeluargaan,” pungkasnya. (mo/wb)

kafe hujan panas di Kota Probolinggo min
Pemilik kafe dan resto Hujan Panas Kota Probolinggo, saat melayani pembeli.
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *