Mengajar Tempuh 45 Km, GTT di Probolinggo Rela Numpang Mobil Angkut Sayur

  • Bagikan
guru tidak tetap di Probolinggo numpang mobil sayur mengajar
Lestari Rahayu saat diwawancarai di kediamannya, Jalan Pahlawan Gang Kemiri masuk Gang Kenongo, RT 04 RW 14, Kelurahan Kebonsari Kulon, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo.

PROBOLINGGO, WartaBangsa.id – Meski tidak dihonor, Guru Tidak Tetap (GTT) di Kota Probolinggo ini, tetap mengajar. Padahal, ongkos perjalanan dari rumahnya ke sekolah Rp 15 ribu. Solusinya, GTT yang sudah mengabdi 20 tahun ini, numpang kendaraan pengangkut sayur.

Namanya, Lestari Rahayu (37), tinggal di jalan Pahlawan Gang Kemiri masuk Gang Kenongo, RT 04 RW 14, Kelurahan Kebonsari Kulon, Kecamatan Kanigaran, kota setempat. Mengajar di SMPN 5 (SMP satu atap) di Desa Ledokombo, Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo, yang jaraknya 45 Kilometer.

Mengajar di sekolah tersebut sejak 2010 hingga sekarang. Tahun pertama mengajar 2010 sampai 2011 yakni, selama 1 tahun Yayuk tidak mendapat honor. Mulai 2012 sampai 2016, oleh pihak sekolah, dihonor Rp 150 ribu sebulan. Meski honornya hanya segitu, namun lulusan Universitas Panca Marga (UPM) Probolinggo tahun 2007 ini tetap dijalani. Alasannya, suka dan senang menjadi pengajar.

Setelah 7 tahun mengajar, Tahun 2017 perempuan yang biasa dipanggil bu Yayuk tersebut, mendapat SK GTT dari Bupati Probolinggo. Honor yang didapatkan naik menjadi Rp 750 ribu dan sekarang sudah Rp 1,3 juta. Sementara biaya atau ongkos transportasi, kalau naik mobil penumpang umum (MPU) Rp15 ribu setiap kali mengajar.

Agar honor cukup untuk membiayai hidupnya, Yayuk menumpang kendaraan sayur (truk atau pick-up) dari Pasar Bantaran ke sekolahnya yang jaraknya sekitar 35 kilometer. Begitu juga dengan pulangnya, ia menunggu kendaraan sayur yang lewat di depan sekolahnya. Dengan cara seperti itu, Yayuk pulang-pergi ke sekolah tanpa mengeluarkan ongkos alias gratis. Sehingga honor yang didapat bisa digunakan untuk kebutuhan lain.

“Tidak setiap hari saya ke sekolah. Minimal 2 hari dalam seminggu. Kan jam mengajarnya hanya 2 hari. Ngajar IPS,” ujarnya, saat ditemui di rumah tinggalnya, Rabu (25/11/2020) sore.

Saat ditanya dari rumah tinggalnya ke Pasar Bantaran yang sekitar 10 kilometer jauhnya, naik apa ? Yayuk menjawab menumpang atau dibonceng rekan-rekan seprofesinya. Alasannya, Yayuk tidak bisa mengendarai sepeda motor. Bahkan, sepeda pancal (angin) pun, ia mengaku, tidak bisa. “Trauma, karena saat belajar sepeda dulu saat kecil, ditabrak orang,” katanya.

Disebutkan, ada sekitar 5 pickup dan truk sayur yang menjadi langganannya. Jika kendaraan yang lain berangkat duluan, Yayuk menumpang kendaraan berikutnya. Tak hanya kenal baik seperti keluarga sendiri, sopir truk yang sering ditumpangi, kini menjadi suaminya.

“Ya, suami saya sopir truk sayur yang sering kami tumpangi. Sekarang berhenti. Kerja menjadi sopir perusahaan,” sebutnya.

Istri dari Sunarto (47), warga Kecamatan Tongas, setiap mengajar dari rumahnya berangkat pukul 05.30 WIB, agar tidak telat tiba di sekolah dan tiba di rumah sore hari menjelang magrib. Ia memilih mengajar di tempat terpencil dan pegunungan dengan suhu dingin, karena sulit menjadi pengajar di Kota Probolinggo.

“Diajak teman. Saya mau meski jauh dari rumah, karena saya memang bercita-cita ingin menjadi seorang guru,” tambahnya.

Yayuk mengaku, sempat ditawari mengajar di sekolah yang lebih dekat dari rumahnya. Namun, ia menolak dengan alasan kadung kerasan, dan enjoy. Apalagi ia sudah dikenal dan banyak teman yang dianggapnya seperti keluarga sendiri. Bahkan, jika ditawari mengajar di wilayah kota, perempuan berjilbab ini, juga tidak bersedia.

“Sudah kadung enjoy. Lebih nyaman suasana desa, lebih akrab dan kekeluargaan. Soal cuaca eksrim di kota panas dan di tempat ngajar saya di Kecamatan Sumber itu dingin, tidak masalah,” pungkasnya. (mo/wb)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *