Pandemi, Komunitas Dancer Pilih Latihan di Halaman Museum Rasulullah Kota Probolinggo

  • Bagikan
Dancer di Kota Probolinggo
Komunitas Viper Dance tengah latihan di bawah pesawat, halaman depan Museum Rasulullah Kota Probolinggo. (Foto: Mo)

PROBOLINGGO, WartaBangsa.id – Di masa pandemi virus Corona, anak-anak muda dan remaja tergabung dalam Komunitas Dance Viper, memilih latihan di alam terbuka (outdoor). Selain butuh halaman luas, alasan lain, mencegah penyebaran Covid-19.

Museum Kota Probolinggo, tak hanya ditempati artefak barang peninggalan Rasulullah dan para Sahabat. Museum yang berada di jalan Suroyo ini, halaman depannya dimanfaatkan tempat latihan dances kawula muda.

Seperti yang terlihat Senin (26/10/2020) sekitar pukul 14.30 WIB. Komunitas Dance Viper, latihan di tempat tersebut. Berlatar-belakang bangunan museum, tampak sejumlah remaja tengah serius meliuk-liukkan tangan dan tubuhnya, mengikuti irama yang keluar dari power aktif berukuran mini.

Meski hentakan musiknya tidak sekeras sound lapangan, namun mereka tetap semangat berlatih. Saat latihan berlangsung tidak ada koreografer, semuanya berlatih dalam satu kumpulan dan komando. Usai latihan, di antara mereka saling mengingatkan jika ada gerakan yang keliru dan tidak pas dengan irama musik.

Mereka kemudian memutar musik yang sama berulang-ulang untuk berlatih lagi, hingga gerakannya mendekati sempurna. Di sela-sela latihan Koordinator Viper Dance, Tangguh Firmansyah mengatakan, sering latihan di alam terbuka (outdoor) seperti di museum.

“Dulu di Alun-alun. Karena Alun-alunnya masih diperbaiki, akhirnya kami latihan di sini,” ujarnya.

Di masa pandemic Covid-19, komunitasnya lebih memilih latihan di luar gedung ketimbang di dalam ruangan (indoor). Selain lebih luas, juga demi mencegah penyebaran dan penularan virus corona. Saat latihan, komunitas yang dimotori selalu menerapkan protokol kesehatan (Prokes).

“Kami selalu bawa hand sanitizer, pakai masker dan jaga jarak saat latihan,” katanya.

Dan selama pandemi, tidak ada anggota Viper yang berjumlah 24 remaja tersebut terkonfirmasi Covid-19. Pemuda yang tinggal di jalan Priksan, Kelurahan Kebonsari Kulon, Kecamatan Kanigaran, kota setempat ini mengaku, ketat dalam menjalankan protocol kesehatan. “Demi kesehatan anggota dan orang lain,” tambahnya.

Penerapan Prokes ketat, karena menurut Tangguh, tak hanya demi keselamatan anggotanya. Kesehatan penonton yang melihat komunitasnya tampil dan latihan, juga harus diperhatikan. Kesehatan dan keselamatan orang lain atau penonton.

“Saat kami latihan dan tampil di panggung, ada penonton. Jangan sampai mereka terkonfirmasi Covid-19, gara-gara nonton kami latihan atau manggung,” jelasnya.

Tangguh menceritakan, komunitas tari modern atau kreasi baru yang dikelolanya, didirikan 7 tahun lalu, tepatnya 12 Desember 2013, saat dirinya masih SMP. Awalnya, beranggotakan teman-teman sekelas di SMPN 4 kota setempat. Kemudian saat dirinya SMA, ada siswa lain sekolah yang ingin bergabung.

“Sekarang anggota Viper umum. Ada yang masih sekolah dan sudah lulus,” sambungnya.

Tangguh menambahkan, latihan yang dilakukan selain menghafal dan melenturkan gerakan juga untuk persiapan menjelang tampil alias manggung. Seminggu sekali, komunitasnya tampil di Jati Kempung Seni (JKA) di jalan Sunan Kalijaga, Kelurahan Jati, Kecamatan Mayangan.

“Kami rutin mengisi acara di JKS. Kadang tampil sendiri, kadang pula berkolaborasi dengan kesenian tradisi,” lanjutnya.

Berbekal pengalaman manggung di sekolah dan tempat umum, Tangguh mengaku, komunitasnya pernah ikut Festival tiga kali. Salah satunya di Malang tahun 2019, namun belum mendapatkan prestasi gemilang.

“Belum. Kami belum berprestasi. Keikutsertaan kami di ajang festival dance atau semacamnya, untuk menambah pengalaman dan motivasi,” pungkasnya. (mo/wb)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *