Pemuda di Kota Probolinggo Miliki Tinggi Badan Dua Meter

  • Bagikan
Lukman, pemuda Kota Probolinggo yang memiliki tinggi badan 2 meter ini didampingi kedua orang tuanya.

PROBOLINGGO, WartaBangsa.id – Lukman Hakim Pratama memiliki tinggi badan 2 meter dan berat 80 kilogram. Dimungkinkan dialah pemuda tertinggi di Kota Probolinggo. Sejak tingginya di atas rata-rata, ia tidak pernah membeli pakaian jadi di toko karena kurang panjang.

Lukman Hakim Pratama dilahirkan 24 tahun yang lalu dari pasangan suami istri Mustakim (51) dan Amamik (49). Anak pertama dari 2 bersaudara ini, tinggal bersama kedua orang tuanya di Jalan Brawijaya, Gang Arbei, RT 2 RW 2, Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo.

Tak hanya Lukman, adik lelakinya yang bernama Muhammad Ghozi Al Gifari, juga berbadan jangkung. Di usia 18 tahun tinggi badannya 190 sentimeter atau 1,9 meter dan masih kelas 11 SMKN 2 Kota setempat. Kakak beradik ini badannya tinggi turunan (genetika) dari buyutnya, sedang tinggi kedua orang tuanya, normal. Bapak 172 sentimeter dan ibunya 165 sentimeter.

Ditemui di rumahnya, Senin (18/01/21), Lukman lagi santai didampingi kedua orang tuanya. Maklum, ia masih menganggur setelah berhenti dari pekerjaannya di pabrik kayu, Kecamatan Gending, Kabupaten Probolinggo. Waktu luangnya dihabiskan bermain game online dan bercanda dengan tetangganya.

Sebenarnya, pria yang masih lajang ini kepingin segera bekerja, namun belum ada perusahaan yang mau menerima lamarannya. Sebelumnya ia pernah ikut Bambang Hartono, tetangganya syuting berbagai acara seperti, hajatan.

“Jadi perhatian undangan, karena tubuhnya tinggi. Enak ngajak dia saat syuting. Enggak perlu tripot. Kalau saya pakai tripot,” ujar Bambang, saat mendampingi Lukman.

Meski cita-citanya TNI, Lukman selepas SMKN di tahun 2015 tidak mendaftar TNI, tetapi mendaftar Akpol (Akademi Polisi). Kendati tingginya diatas yang dipersyaratkan, namun ia tidak lolos. Setelah sempat menganggur beberapa bulan, lamarannya di pabrik kayu, diterima.

“Kalau ada kayu yang diletakkan di tempat tinggi, saya yang kebagian ngambil,” katanya tertawa.

Lukman juga sering dimintai tolong tetangga dan teman-temannya, mengambil sesuatu di tempat yang tinggi, yang tidak dapat dijangkau orang normal. Selain memiliki kemudahan, tubuh jangkungnya juga merepotkan. Ia sulit menemukan penjual celana panjang dan baju yang pas dengan ukuran tubuhnya.

“Terpaksa saya ke penjahit. Langganan saya penjahit belakang RSIA Siti Khotijah,” ujarnya.

Sejak SMKN hingga kini, ia tidak pernah membeli baju (pakaian) dan celana di toko. Karena kurang panjang dan kalau dipakai, cingkrang. Sedang untuk kaus (T Shirt) Lukman masih bisa membeli di toko busana (pakaian).

“Kalau kaus beli di toko. Ada yang jual ukuran gede. Adik saya juga pakai baju dan celana bikinan penjahit,” imbuhnya.

Lukman sendiri heran, mengapa saat SMA, tubuhnya tingginya cepat, padahal ketika SMP tingginya biasa saja, seperti rekan-rekannya. Dimungkinkan genetika dari buyutnya yang tingginya 180 sentimeter.

“Makan dan menunya biasa, seperti yang lain. Snack (makanan ringan), jarang. Apalagi suplemen, tidak pernah,” lanjutnya.

Meskipun bertubuh jangkung, Lukman tidak memilih olahraga voli dengan alasan tidak suka. Saat SMKN, ia bergabung dengan tim bola basket sekolahannya dan pernah juara dalam lomba antar pelajar (sekolah). Ia memilih olahraga yang digemari warga Amerika tersebut, karena penggemar dan penontonnya, banyak perempuannya.

“Saya senang karena yang suka dan yang nonton cewek-cewek,” sambungnya.

Tentang pacar atau kekasih, Lukman mengaku, tidak pernah ditolak cintanya lantaran tinggi badannya. Malahan menurutnya, cewek-cewek banyak yang suka pada lelaki yang tubuhnya tinggi seperti dirinya. Selain disukai perempuan, Lukman mengaku, menjadi perhatian terutama bagi mereka yang baru melihat dan tahu.

“Sering ditanya macam-macam. Kok bisa tinggi. Makan, olahraga dan anaknya siapa,” pungkasnya. (mo/wb)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *