Penjualan Kambing Kurban di Kota Probolinggo, Merosot

  • Bagikan
Kambing kurban milik pedagang yang masih tersisa.

PROBOLINGGO, WartaBangsa.id – Meski Selasa (20/7/2021) pagi tadi Salat Idul Adha sudah dilaksanakan, namun masih ada pedagang hewan musiman, belum pulang. Alasannya, masih menunggu pembeli karena ada beberapa ekor kambingnya yang belum laku jual.

Bahri (55) seorang penjual kambing musiman, Selasa (20/7/2021) siang, membenarkan belum hengkang dari tempat jualannya di Jalan Hayam Wuruk, Kelurahan Jati, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, lantaran 3 ekor kambingnya belum laku.

Dikatakannya, jika hingga Selasa sore kambingnya tidak ada yang membeli, bapak asal Kelurahan/ Kecamatan Wonoasih ini mengaku akan tetap pulang. Karenanya, Bahri sejak pagi sudah berkemas-kemas dan tinggal membongkar tenda kambingnya.

Siang itu, satu ekor kambingya sempat ada yang menawar. Namun, tidak jadi lantaran tidak kesepakatan harga. Kalau tidak laku, Bahri akan membawa pulang tiga ekor kambingnya untuk dijual di pasar atau rumahnya sendiri.

“Biar saja, akan saya bawa ke pasar saja atau saya jual di rumah,” tandasnya.

Dibanding hari raya kurban tahun sebelumnya, Bahri menyatakan penjualan kambing kurban menurun. Tahun 2020 lalu, sebanyak 116 ekor yang dijual, seluruhnya laku tanpa sisa. Sementara lebaran Idul Adha tahun 2021 ini, ia membawa 106 ekor kambing, namun yang laku terjual sebanyak 103 ekor dan tersisa 3 ekor.

“Agak sepi tahun ini. Mungkin karena pandemi. Tahun lalu, 166 ekor habis dalam 18 hari. Sekarang jualan 21 hari masih sisa 3 ekor,” jelasnya.

Meski sepi, harga kambing lebih mahal sekarang ketimbang tahun lalu. Rata-rata kenaikannya sekitar 10 persen. Bahri menaikkan harga jual meski pembali sepi. Karena harga kulakannya memang naik.

Tahun 2020 kemarin, ia menjual kambing harganya berkisar antara Rp 2 juta hingga Rp 3,4 juta per ekor. “Kemarin ada yang laku Rp 5,2 juta. Paling murah Rp 2,5 juta,” katanya

Pria yang sudah 10 tahun berjualan kambing di lokasi itu berharap, PPKM Darurat segera berakhir. Agar kondisi ekonomi bisa normal kembali.

Sementara itu, Slamet (37) pedagang musiman yang berjualan di jalan Sunan Ampeel, Kelurahan Jrebeng Lor, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo, mengaku penjualannya terpuruk.

Dari 13 ekor kambing yang dijual Slamet, yang laku hanya 10 ekor dan tersisa 3 ekor. Alasannya, selain harga mahal, juga sepi pembeli.

Sama dengan Bahri, penyebabnya PPKM Darurat, sehingga masyarakat malas keluar rumah. ‘Laku atau tidak laku, hari ini kami harus pulang,” tegasnya.

Sebab, jika bertahan dengan harapan kambing yang tersisa laku, maka pria yang tinggal di Kelurahan Kebonsari Kulon, Kecamatan Kanigaran tersebut, tambah merugi. Ia tidak memungkiri kalau untung, namun labanya itu terkurangi oleh biaya jaga dan konsumsi.

“Keuntungannya berkurang bahkan habis, kalau kita menunggu agar tiga ekor itu laku. Untuk biaya makan dan konsumsi lain. Tetangga dan teman-teman saya kalau malam ke sini. Masak mereka nggak saya kasih makan dan rokok,” jelasnya.

Selain itu, ada tambahan biaya pakan kambing. Saat ditanya perbandingan dengan tahun lalu, Slamet menjawab, lebih ramai pada lebaran Idul Adha tahun 2020 lalu. Dari 60 ekor kambing yang dibawa atau dijual, seluruhnya laku terjual.

“Saya tahun lalu jualan hanya 2 minggu. Laku semua. Sekarang masih sisa 3 ekor,” pungkasnya. (mo/wb)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *